RSS

Minggu, 12 Juli 2015

Incredible Choice in Venice





**
Lautan manusia berlalu-lalang di sekitar Vania, gadis berambut sebahu yang sibuk menyeret koper juga sesekali membenahkan posisi ranselnya yang selalu merosot. Bising suara manusia yang saling bersahutan tidak juga membuatnya berhenti mengoceh sepanjang perjalanan menuju konter check in. Membuat Vatra, laki-laki di sebelahnya yang nampak tenang kini berubah menjadi sibuk mengamati, takut-takut gadis itu bisa saja tersandung.
Setelah menunjukan paspor pada petugas di bagian konter check in, Vania dan Vatra menuju ruang tunggu karena pesawat tujuan mereka akan boarding setengah jam lagi. Vania sibuk bermain gadget, tanpa memperhatikan jalan, ransel yang dikenakan gadis itu tidak luput dari pandangan Vatra. Akhirnya, karena gemas melihat gelagat gadis di depannya yang kesusahan, Vatra menarik ransel Vania dengan gerakan cepat, membuat gadis itu memekik spontan.
“Aku kira copet!” serunya.
Vatra tersenyum, melempar pandangan meminta maaf. “Habis kamu kelihatan ribet banget main gadget, ranselnya daritadi merosot terus,”
Vania melirik ransel biru yang kini tersampir di satu bahu Vatra. “Awas jagain ransel aku, banyak barang berharganya.”
Vatra menoyor Vania gemas. “Bukannya bilang terima kasih,” komentarnya.
Vania hanya tertawa. Ia melirik lagi layar gadget yang kini sudah tersambung dengan applikasi video call, lalu mengarahkan layar gadget nya lurus di depan wajah, wajah yang familiar muncul dibaliknya.
“Hai Voda!” seru Vania berapi-api, membuat Vatra menoleh ke arahnya dengan pandangan bertanya.
“Kita sebentar lagi boarding. Ini di sebelahku Vatra mukanya bete terus, coba kamu kasih nasihat. Straight face man, ngomong nih,” Vania memberikan gadgetnya pada Vatra.
“Wei sob, itu muka apa papan seluncur? Datar amat,” Voda bergurau, membuat Vania tertawa mencibir.
Vatra melotot geram. “Vod, kalau habis ini lo gak putusin sambungan, gue bersumpah gak akan pernah nemuin lo di Venice,”
Voda kembali tertawa di balik layar. “Bahasa Jakartanya keluar deh, ok, gue matiin, yang penting kalian gak video call sama gue pas di pesawat. Heboh amat,”
Vatra tidak menjawab lagi, ia justru memutuskan sambungan tanpa izin, lalu memilih opsi turn off. Vania mengerucutkan bibir kesal.
“Jangan macam-macam, ini aku sita dulu. Bahaya kalau diam-diam di pesawat nanti kamu bikin vlog,”
Vania diam. Suara peringatan keberangkatan pesawat tujuan mereka terdengar dari speaker pengumuman. Vatra menarik tangan Vania, tidak sadar menenggelamkan tangan gadis itu dalam genggamannya.
**
Venice, Italia.
Setelah mendapat pesan dari Vania saat gadis itu transit. Voda sering mematut diri di cermin. Entah kenapa rasa-rasanya ia seperti sangat ingin memperhatikan penampilannya. Enam bulan tidak bertemu dua sahabatnya, membuatnya menjadi tidak karuan, terlebih karena ia akan bertemu Vania…. Ah bahkan gadis itu masih merenggut seluruh atensinya. Teman-teman wanita di kampusnya bisa dibilang banyak yang lebih cantik daripada Vania, tapi bagi Voda tidak ada yang bisa menggetarkan hatinya selain Vania. Tentu, bukan dalam hubungan pertemanan, tapi lebih dari itu.
Bahkan, sejujurnya ia menyesali keputusannya melanjutkan kuliah S2 di kota kelahiran Ayahnya, karena justru hal itu merenggut kesempatan terbaiknya untuk terus berada di samping Vania.
Voda merasakan debaran gila di jantungnya. Ia sudah berjanji dalam hati, jika bertemu Vania nanti, tidak peduli apa jawaban dan tanggapan gadis itu, Voda akan mengutarakan perasaannya.
**
Setelah melakukan perjalan panjang yang memakan waktu hampir satu setengah hari, akhirnya Vania dan Vatra sampai di kota Venice. Mereka memutuskan berjanji bertemu dengan Voda di Canal Grande, karena mereka tidak berani ambil resiko, menyadari Venice adalah kota yang paling memungkinkan membuat mereka tersesat dengan minimnya informasi.
“Kampus Voda gak jauh dari sini,” Vania menunjukan letak Universitas Ca’ Foscari dipeta yang dibawanya.
Vatra mengangguk. “Enaknya si Voda tinggal di kota seindah ini. Aku juga bakal betah kalau begitu,”
Vania mendelik. “Aku nggak,” membuat Vatra menunggu alasan gadis itu.
“Soalnya aku gak bakal sering ketemu kamu sama Voda. Aku gak suka jauh-jauhan sama kalian,”
Vatra tidak berkomentar. Hanya tertegun melihat Vania yang kini tersenyum.
Tidak lama, Vania merasa tubuhnya terengkuh penuh oleh seseorang dari belakang. Gadis itu menjerit, membuat Vatra spontan mendorong seseorang yang memeluk Vania, yang tidak lain adalah Voda.
Voda terbahak melihat sikap dua sahabatnya yang sangat paranoid. “Sumpah! Emang kalian kira aku kriminal?”
Voda tersenyum lebar, hendak memeluk kembali Vania yang sudah sempurna berhadapan dengannya, namun tiba-tiba saja Vatra menggeser tubuhnya sendiri hingga berdiri di antara Vania dan Voda.
Vatra berdeham. “Jangan meluk-meluk, dia bau. Perjalanan kita hampir dua hari tanpa mandi.” Katanya, mencari-cari alasan.
Vania mengerucutkan bibir kesal. “Bilang aja kamu iri gak dipeluk rindu sama Voda! Sini kaliaaaaan!” Vania berjinjit, merangkul dua sahabatnya yang tinggi. Hanya jika ia peka sedikit aja, detak jantung kedua laki-laki itu berpacu sama kencangnya.
Voda berusaha menahan keinginannya untuk menarik Vania dalam rengkuhannya seorang. Terlalu dini jika ia secara gamblang menunjukan perasaannya sekarang. Sementara Vatra sibuk menetralisir degup jantungnya sendiri, yang akhir-akhir ini selalu tidak mau di ajak berkomproni jika ia berada dekat-dekat dengan Vania.
Sebuah gondola yang berlayar menuju tepian Canal Grande, menepis tiga petualangan hati berbeda disana. Vania melepas rangkulannya, lalu berlari menuju pinggir jembatan, takjub dengan apa yang dilihatnya.
Vania membuka mulutnya lebar. “Vod, kapan kita bisa naik itu?”
Voda balas berseru, “Nanti,” jika saatnya sudah tepat bersamaan dengan perasaan ini. Tambahnya dalam hati.
Sementara Vatra hanya memandang Vania dan Voda secara bergantian. Tahu betul Vania adalah gadis drama yang menginginkan hal-hal romantis dalam hidupnya. Salah satunya adalah berlayar di sepanjang Canal Grande dengan gondola. Tiba-tiba saja sesuatu terbayang dalam pikirannya. Bagaimana jika….
“Vat, besok kasih gue waktu sama Vania berdua ya? Ada sesuatu yang harus gue bilang ke dia,” Vatra tersadar dari khayalannya, beralih menatap Voda yang juga serius menatapnya.
“Mau ngomong apa?” Vatra bertanya ingin tahu. Merasa sesuatu yang tidak diinginkan akan terjadi.
“Gue yakin lo tahu, man.” Voda tersenyum tipis, lalu melanjutkan. “gue tahu,  friendzone kecil kemungkinan buat jadi seperti yang diharapkan, tapi gue cuman mau berusaha gentle dengan gak cuman mendem perasaan doang.”
Vatra terdiam beberapa lama. Voda melempar senyum simpul, lalu menepuk bahu Vatra, mengambil langkah menuju Vania yang jauh di depannya. Belum genap langkah keduanya, Voda merasakan lengannya ditahan, laki-laki itu menoleh dibalik bahu.
Then, let’s do it together. Do the same in our way. Karena kalau cuman lo yang ungkapin, rasanya gak adil. Gue juga akan merasa gak gentleman,” Rahang Vatra mengeras setelah mengutarakan kalimatnya.
Voda mematung, menatap Vatra dengan berjuta tanda tanya. “Lo…”
I love her too.” Gumam Vatra. Voda memekik tertahan.
“Voda, Vatra! Kalian ngapain berdiri disitu terus? Cepet sini, kita susun list to do selama di Venice!” Vania berseru lantang di depan mereka. Tidak tahu bahwa ada dua laki-laki yang mulai mengambil langkah untuk saling merebut perasaannya. Vania tidak tahu, mulai detik itu mungkin semuanya nyaris tidak akan sama lagi. Vania juga tidak tahu, bahwa salah satu laki-laki disana yang juga sama dicintainya sudah memberikan jawaban atas pertanyaan hatinya selama ini.
**
Piazza San Marco, menjadi tempat tujuan Voda, Vania, dan Vatra kali ini. Setelah singgah sebentar pada Apartement milik Voda yang terletak dijantung Kota Venesia, satu-satunya manusia yang ber-gender wanita, yang tidak lain, tidak bukan adalah Vania, menyeret paksa lengan milik kedua sahabatnya, tanpa tahu, kedua jantung kedua laki-laki itu berdetak sama kencang.
Piazza San Marco, merupakan salah satu alun-alun utama di kota Venesia, tidak heran, baik turis lokal, mancanegara, bahkan penduduk asli sekitar, begitu beramai-ramai mengunjungi tempat ini.
Vania tidak berhenti berdecak kagum, Venesia benar-benar melebihi batas ekspektasinya! Sungguh indah, dan meski ia tidak mau mengakui ini, tetapi… Venesia benar-benar romantis!
Gadis itu terkesiap ketika sebuah tangan kokoh menggenggam tangannya erat. Dia mendongak, mencari tahu, siapa pemilik tangan itu. Tanpa diduga, kedua pipi gadis itu menghangat, setelah ia tahu, Voda yang menggenggam tangannya.
“Jangan jauh-jauh dariku. Aku tidak mau kamu tersesat. Venice dibulan Maret terlalu banyak turis. Aku tidak mau kamu hilang.”
Gadis itu mengrenyit, ketika menyadari perbendaharaan kata Voda yang terkesan lebih lembut dari terakhir mereka bertemu. Perasaan ini? Bolehkah?
Gadis itu hanya mengangguk ragu. Membiarkan Voda membimbingnya, kemanapun ia melangkah, tanpa mengerti, ada sosok lain di belakangnya yang sedang menatap ke arah mereka, dengan begitu terluka.
**
Vatra menghela napas lega, ketika Vania begitu kelelahan, dan segera beranjak ke kamarnya, untuk segera tidur. Ia harus segera menyelesaikan urusannya dengan Voda. Secepatnya. Mana yang ia pilih, persahabatan, atau cinta?
“Gue mau ngomong.” ucapnya, ketika melihat Voda yang sedang menuang kopi dalam cangkir berwarna coklat.
Voda hanya menyeringai, sebuah tanda sebenarnya laki-laki itu tidak terlalu berminat dalam perbincangan ini.
“Perasaan gue ke Vania, itu bukan suatu hal yang main-main.” Ujarnya kemudian.
Voda menaikan alis. “Lo pikir perasaaan gue juga main-main? Gue tahu, gue memang bukan pemuda yang baik untuk Vania. Tetapi… baru kali ini gue punya perasaan yang begini dalam pada wanita. Dan gue mau jadi yang terbaik untuk dia.”
Vatra mencibir, “Apa lo masih punya muka buat mengungkapkan apa yang lo rasa ke Vania sekarang, setelah lo tiba-tiba pindah ke Venice?  Dan gue jamin, lo pasti main wanita disini.”
Voda menghela napas, mencoba mengontrol emosinya. “Vania cinta pertama gue. Sahabat pertama gue, sahabat kecil gue satu-satunya. Bahkan sebelum lo hadir dan jadi sahabat kami.”
Meletakan cangkirnya diatas meja, Pemuda itu kembali berkata, “-meski gue akui, gue brengsek. Gue playboy. Tetapi… itu semata-mata agar gue dapat perhatian dia. Dan harusnya lo inget, lo nggak ada bedanya sama gue. Atau mungkin… malah lebih buruk?”
Vatra merasa emosinya memuncak, ditariknya kerah pemuda dihadapannya, kemudian ditatapnya dengan sengit. “I love her!”
Iris coklat tua Voda memicing. “And I love her too!” bentaknya.
“A-apa… Voda? Vatra? Kalian?”
Suara lembut itu menginterupsi mereka. Vania, gadis yang telah singgah dalam hati mereka, menatap dua sahabat itu dengan terkejut.
“Apa maksudnya? Bisakah kalian jelaskan? Bukankah kita harusnya bersahabat dengan baik?”
Vatra melepaskan kerah baju milik Voda, kemudian berkata, “Vania, lihat kami sebagai laki-laki. Bukan hanya sebatas sahabatmu. Pilihlah salah satu dari antara kami. Kamu pasti tahu, apa yang sedang kami debatkan tadi.”
Gadis itu melipat tangannya di depan dada. “Apa bedanya, jika aku memilih, ataupun tidak memilih salah satu dari antara kalian? Apakah persahabatan kita tetap bisa kembali seperti dulu?”
Vatra menyeletuk, “Jangan harap. Kami bukan sahabat lagi, semenjak kami sama-sama tahu, perasaan kami padamu, lebih dari sekedar sahabat.”
Voda menghela napas. “Kita akan bersahabat, apapun yang terjadi.” Irisnya bergulir pada Vatra, “lo jangan egois!” tandasnya kemudian.
Vatra mencibir, “Lo yang bikin gue egois!” ucapnya, kemudian bangkit dan meninggalkan kedua sahabatnya.
Vania menunduk, tangannya terkepal erat, hingga tanpa sadar dia menangis, menangisi persahabatannya untuk pertama kali.
Melihat itu, Voda mendekati gadis yang begitu dia sayangi, kemudian direngkuhnya erat dalam pelukan. “Kita akan baik-baik saja, persahabatan kita tidak akan serendah itu. Tetapi Vania, kamu harus tetap memilih, apapun yang terjadi. Pada akhirnya, harus ada yang terluka, karena kita tidak bisa hidup dalam kebohongan.”
Setelahnya, Voda mengacak pelan rambut Vania, suatu kebiasaan yang sudah lama tidak ia lakukan.  Be happy, Cherry.” Kemudian melangkah meninggalkan Vania yang masih setengah terisak.
**
 Vania mengeratkan sweater-nya dari dingin Venesia di malam hari, gadis itu tidak bisa berbohong, bahwa ia sedang tidak baik-baik saja sekarang. Persahabatan yang telah ia bangun dengan dua lelaki berbeda itu, terancam kandas, meski tidak ada yang dinamakan mantan sahabat.
Pikirannya beralih pada dua lelaki yang sedang memenangkan hatinya, Vatra adalah sosok yang tegas dan temperamental, seperti namanya yang berarti Api, dalam bahasa Kroat, Vania masih ingat betul, pada masa mudanya, Vatra mempunyai banyak daftar hitam, sering berganti pacar, tak segan memamerkan kemesraannya pada Vania dulu, meski begitu, pemuda itu selalu ada kapanpun ia inginkan, bahkan ketika Voda pergi.
Sedangkan Voda, pemuda itu cenderung pendiam, dan tenang. Seperti namanya yang berarti Air. Voda adalah sahabat pertamanya, laki-laki itu memanggilnya Cherry diawal bertemu, saat usia mereka masih lima tahun, kata Voda, pipi Vania seperti Cherry, maka anak laki-laki itu menyebutnya Cherry. Dan ia tidak bisa berbohong, semenjak bertemu Voda, hidupnya bergantung pada lelaki itu, meski laki-laki itu pernah mempunyai kekasih, tetapi Vania tetap menjadi prioritasnya. Bahkan laki-laki itu sering bersikap dingin pada kekasihnya sendiri. Meski ia tidak bisa memungkiri, bahwa ia kecewa ketika Voda menetap di Venice.
Ini semua membuatnya bingung, kedua laki-laki itu mempunyai tempat yang sama dihatinya, masih sulit baginya untuk memilih. Tetapi benar apa yang dikatakan Voda, ia juga tidak bisa terus-terusan berbohong pada dirinya sendiri, atau bahkan pada kedua laki-laki itu, karena ia tersadar, salah satu dari mereka telah memenangkan hatinya dari awal.
Ia tahu, jika dia tidak segera memberi keputusan, pasti kedua laki-laki itu akan berseteru lebih hebat dari ini, ia tahu, jika ia harus benar-benar memilih, meski sama saja ia akan menyakiti salah satu dari mereka. Pada akhirnya harus ada seseorang yang terluka. Bukan— Vania lebih suka menyebutnya, seseorang yang harus mencari kebahagiaannya sendiri. Ia tidak mau menyakiti siapapun.
Semuanya sudah bulat, hatinya sudah mantap sekarang.
**
Dengan langkah ringan, Vania dengan paksa menyeret Vatra hingga ke ruang tengah. Ruangan yang begitu dihindari oleh Vatra, karena ada Voda disana. Meski dia suka, tangannya ditarik Vania seperti ini.
Gadis itu berdeham sejenak, ketika menyadari kedua sahabatnya yang saling melempar pandangan sengit. “Aku tahu perasaan kalian padaku, dan pada akhirnya aku harus memilih. Meski terasa sulit.”
“Jika terasa sulit, tidak usah memilih. Biarkan saja seperti ini.” ungkap Vatra kemudian.
Vania menghela napas. “Aku harus memilih, karena tidak selamanya kita harus hidup dalam kebohongan. Tidak selamanya kita berada dalam sketsa abu-abu. Bukan maksudku untuk menyakiti salah satu dari kalian. Kita semua sudah dewasa, aku tidak mau persahabatan kita hancur hanya cinta.”
“Pada akhirnya akan ada yang terluka, dan aku tidak mau itu terjadi, persahabatan kita… akan sulit untuk kembali.” ucap Vatra lagi.
Vania tersenyum tipis, “Vatra, mana yang akan kamu pilih? Hidup dalam kebohongan yang menyenangkan, atau dalam kebenaran yang menyakitkan?”
Vatra hanya membuang mukanya, membiarkan gadis itu kembali berbicara. Sedangkan Voda, sedari tadi hanya terdiam.
Tangan gadis itu terulur, menyatukan tangan kedua sahabatnya. “Hey, setelah bertahun-tahun, apa perasahabatan kita serendah itu? Umur kita tidak lagi muda. Aku akan memilih sekarang, dan aku harap kalian terima.”
Iris coklat madu milik gadis itu bergulir kearah Voda. “Voda, te amo. Aku tidak bisa berbohong pada diriku sendiri.”
Raut wajah Voda menjadi terkejut, sedangkan Vatra, menatap gadis itu dengan pandangan terluka.
“Vatra, maaf. Aku menghargai perasaanmu, tetapi kebahagiaanmu bukan aku. Carilah kebahagiaanmu sendiri.”
Vatra menyentak genggaman tangan Vania. “Aku mau bukti bahwa kalian saling mencintai. Sakiti aku lebih dari ini, agar semua lebih mudah untuk dilupakan.”
Vania menatap Vatra dengan pandangan tidak percaya. Sedangkan Voda menatap Vatra sengit.
“Sebulan lagi kami bertunangan, dan gue harap…ini lebih dari cukup dijadikan bukti, bahwa kami saling mencintai.” ujar Voda kemudian.
Vatra menghela napasnya. Ia tahu ia sudah kalah dari awal, dia kalah semenjak dia terlambat masuk dalam kehidupan Vania, meski Voda pergi, itu tidak akan mengubah apapun.
Kemudian, laki-laki itu melangkah menjauhi kedua sahabatnya itu. “Lakukan sesuka kalian.” ucapnya.
“Vatra!”
Suara Voda, kembali membuat langkah kakinya tertahan.
“Lo, ikut pertandingan Polo yang diadain bokapnya Vania lusa ‘kan?” tanya Voda.
Tanpa menoleh dibalik bahu, Vatra menjawab, “Tentu saja, tanpa aku, team-mu akan kalah.” Katanya, lalu kembali melangkah meninggalkan kedua sahabatnya.
Jawaban dari Vatra, membuat Voda dan Vania tersenyum lega, pasti sahabat mereka itu akan mendapat kebahagiaannya sendiri.
**
Menaiki gondola di senja hari, bersama sang pemilik hati, terasa menakjubkan bagi Vania, hampir melewati jembatan Rialto diiringi nyanyian lembut dari Gondolier, membuat waktu terasa melambat.
Gondolier itu berkata dalam bahasa itali pada Voda, “Konon katanya, jika sepasang kekasih berciuman di bawah jembatan ini sewaktu senja, mereka akan mendapat hadiah yang menakjubkan.”
Voda tersenyum kikuk, ia tidak mau melakukan hal berlebihan, sebelum Vania menyandang namanya juga. “Apa ciuman di kening, memiliki efek yang sama?”
Gondolier itu mengangguk. “Saya rasa sama, Tuan.”
Saat Gondolier kembali menyanyikan lagunya, Voda mengambil kedua tangan Vania lantas menggenggamnya erat, “Cherry, te amo.” ucapnya lirih. Kemudian dikecupnya kening gadis itu dengan penuh perasaan.
**
Vatra berjalan tak tentu arah, sambil mengacak rambutnya frustasi, meski sulit baginya untuk menerima semua ini, ia harus terima. Vania benar, usianya tak lagi muda. Dan mungkin saatnya dia mencari kebahagiaannya sendiri.
Hingga tanpa sengaja ia menyenggol bahu seorang gadis, dan tanpa sadar menjatuhkan semua barang yang dibawa gadis itu.
Oh my God! Apa lagi kali ini? Oh no! kamu menghancurkan barang yang saya bawa untuk Ibu saya! Kamu harus menggantinya!” bentak gadis itu.
Vatra hanya memutar bola mata bosan. “I’m sorry. Tapi tidak bisa hari ini, saya butuh waktu untuk sendiri.”
Gadis itu mengacak rambutnya frustasi. “Anda patah hati? Harusnya anda bersyukur, meski ditolak, anda masih bisa melihat wajahnya.” ucap gadis itu, kemudian raut wajahnya berubah sendu.
Gadis berambut hitam itu, lantas merogoh tasnya, kamudian memberikan selembar kartu nama. “Aku tidak mau tahu, kamu harus ganti rugi.” Kata gadis itu, kemudian berlalu begitu saja.
Vatra mengrenyit heran, lantas terkejut. “Althea? Orang Indonesia? Pantas saja.”


End
 next to Milan :)
enjoy reading, salam bintang dandelion dan hakunanitata!
kalian bisa menemukan cerita ini disini juga Collaborate with Nita thankyou! see you in next story!

Kamis, 04 Juni 2015

Waiting For You *cerpen*


Waiting For You
*
            “Sahabatku, cinta adalah kata kerja. Cinta-perasaannya- merupakan buah dari cinta, kata kerjanya. Jadi, cintai dia. Layani dia. Berkorban. Dengarkan dia. Berempati. Hargai. Teguhkan dia. Apakah anda bersedia berbuat begitu?” – The 7 Habits of Highly Effective People.
*
            Shallom merapikan rambutnya yang terlihat acak-acakan. Baru saja mamanya meneleponnya untuk segera kembali ke rumah, karena ada hal penting yang akan dibicarakan. Dia yang baru saja selesai menjalani dua mata kuliah, langsung merasakan panik tidak terkira, dipacunya motor matik kesayangannya, menuju rumah kecilnya. Jika Mama menelepon tiba-tiba, pasti ada saja sesuatu yang terdesak.
            Mama adalah prioritasnya, begitu pikirnya. Setelah Papanya meninggal, apa yang akan dikatakan Mamanya adalah perintah mutlak. Bahkan pilihan perguruan tinggi –pun Shallom hanya menyetujui perintah Mamanya. Meski itu menanggalkan jauh-jauh citanya sebagai ahli astronom atau ahli sastra.
            Menghela napas pelan, gadis itu lantas mengrenyitkan dahi ketika satu mobil metallic yang sama sekali tidak ia kenal, terparkir rapi, di halaman depan rumahnya.
            “Aku pulang!” sapanya dengan riang setelah membuka pintu.
            Tiga pasang mata asing memandangnya dengan heran. Membuatnya menunduk malu, karena ada tamu asing yang tak dia kenal berada di ruang tamu rumahnya.
            “Dia Shallom, Tante?” ucap suara baritone, yang asing dalam pendengarannya. Pemilik suara itu, memiliki tubuh tinggi, dan wajah dengan rahang tegas, dan satu lesung pipi, di pipi kanannya. Tatapannya tajam, seakan mengintimidasi Shallom.
            Shallom melihat Mamanya mengangguk sambil tersenyum, lantas Pemuda itu bangkit, dan berdiri tepat dihadapannya. Setelah menatap Iris hitam Shallom dengan lembut, lantas merangkumnya dalam pelukan.
            “Setelah tujuh belas tahun berlalu, akhirnya kita bertemu lagi.” Bisik pemuda itu.
“Kamu… siapa?” gumam Shallom, membuat laki-laki itu melonggarkan pelukannya.
“Kamu lupa?” tanya Pemuda itu dengan raut kecewa, lantas dibukanya smartphone miliknya, dan menunjukannya pada Shallom.
“Aku Moses. Dan ini Kita, dulu Papamu pernah membawamu berberapa kali di Rumah kami, mungkin saat itu usiamu baru tiga tahun. Wajar kamu lupa, tidak sepertiku, yang sudah berumur lima tahun, lebih mudah untuk mengingat.”
Shallom mengrenyit, ia tidak pernah menyangka ini sebelumnya. Diliriknya wallpaper yang dijadikan laki-laki itu pada smartphone miliknya. Foto hasil scanning seorang anak laki-laki, dan perempuan. Terlihat anak perempuan itu mengecup pelan pipi kanan si anak laki-laki.
Hey! Apa benar itu dia? Tetapi… lesung pipi yang nampak pada foto itu membuatnya yakin jika itu dirinya, tetapi apa benar waktu kecil dia segenit itu? What the hell?!
“Umm… Maaf Mas, aku tidak mengingatnya sama sekali.”
“Tidak apa.” Sahut Moses dengan acakan pelan pada rambut Shallom.
“Sudahlah, kalian bisa saling mengenal lagi nanti. Dan, bisakah saya bertemu dengan Arsa? Apa dia masih bekerja?” suara berat laki-laki paruh baya menginterupsi mereka, Tomi. Ayah Moses.
Shallom mengambil langkah sigap mendekati Mamanya. Keluarga kecilnya memang lebih sensitive jika membicarakan tentang Papanya.
“Mas Arsa… sudah meninggal… delapan tahun yang lalu.” ucap Mara, Mama Shallom. Dengan nada bergetar.
Setelahnya, yang terdengar hanyalah isak tangis setiap pribadi yang ada disana.
“Arsa sudah seperti Adik saya sendiri. Tetapi, kenapa disaat terakhirnya, bahkan saya tidak ada disisinya. Saya sudah hilang kontak dengannya lima belas tahun lalu. Rasanya, saya seperti orang yang tidak berguna.” Isak Tomi.
“Om Arsa orang baik. Dia pernah membelikanku mainan yang aku inginkan, sebelum Ayah membelikannya.” imbuh Moses.
“Arsa selalu membawa buah ketika berkunjung ke rumah kami. Persahabantannya dengan Mas Tomi bukan persahabatan biasa. Tetapi saya tidak menyangka akhirnya akan seperti ini.” Sahut Ira, isteri Tomi.
“Bisakah mengantar kami ke tempat peristirahatan terakhir Arsa?” tanya Tomi.
Melihat Mamanya yang masih berurai air mata, Shallom mengusap setitik air mata yang jatuh dari pelupuk matanya, lantas menjawab “Bisa Om. Mari saya antar.”
Gadis itu menghela napas, ia memang tidak bisa menangis di depan orang lain. Hanya satu tetes air mata yang jatuh tadi. Tetapi mungkin tidak untuk malam nanti, persahabatan Papanya bahkan membuat hatinya teriris. Delapan tahun berlalu, ternyata semua tidak baik-baik saja.
Gadis itu lantas bangkit setelah mengusap pelan punggung Ibunya. Tersenyum singkat pada keluarga sahabat Papanya, mengisyaratkan mereka mengikutinya. Lagi-lagi gadis itu tersentak, setelah sebuah tangan kokoh melingkari tangan mungilnya.
“Kamu gadis yang kuat.” Bisik pemuda itu. Pemuda yang sepertinya akan mengambil atensinya sebentar lagi.
Setibanya di pemakaman, sahabat Papanya itu kembali menangis. Mungkin laki-laki itu merasakan rasa kehilangan yang sama seperti yang Shallom rasakan. Moses dan Ibunya menepuk pundak sang Ayah berulangkali berupaya untuk menenangkan. Sedangkan Shallom, hanya memandang keluarga itu dengan tatapan sendu.
Berapa banyak orang lagi, yang merasa sebegini dalam merasa kehilangan sosok Papanya?
Shallom terperangah, ketika melihat Moses tersenyum tulus kepadanya. Pemuda itu… Ah, Shallom tidak bisa mendefinisikannya, apa yang ada dibenak kalian, ketika Pemuda yang sama sekali tidak merasa kamu kenal, menrengkuhmu, kemudian berkata, kamu adalah bagian masa lalunya, lantas memberikan senyuman manis yang membuat darahmu berdesir tiba-tiba?
Pemuda itu seakan memperlakukan Shallom secara spesial. Tetapi, apa pemuda itu bersikap seperti ini hanya pada Shallom? Atau pada semua gadis? Dan Shallom yakin, sedari tadi dia hanya kaget saja. Tidak mungkin dia jatuh cinta dalam waktu singkat kan?
“Kamu jangan melamun!” lagi-lagi suara baritone itu menginterupsi.
Shallom hanya tersenyum canggung.
“Besok… kamu ada pelayanan?” tanya pemuda itu dengan raut ragu.
Shallom hanya menggeleng pelan, kebetulan dia besok free.
Moses tersenyum puas. “Setelah ibadah, aku akan mengajakmu ke suatu tempat.”
“Memang Mas Moses tidak pelayanan?” gadis itu bertanya.
“Besok free. Makanya aku bisa ikut Ayah ke sini.” Jawab pemuda itu dengan senyuman tipis.
Setelahnya, Shallom kembali mengantar mereka kembali ke rumahnya. Tomi, dan Ira terlihat mengenang setiap kenangan mereka dengan sang Papa. Begitupun dengan Mamanya. Shallom hanya menghela napas bosan. Adiknya, satu-satunya laki-laki dirumahnya sekarang, belum pulang sekolah. Membuat Shallom tidak tahu apa yang akan dia lakukan.
“Shallom?” sapa Moses, membuat gadis itu menoleh kearah sang Pemuda.
“Ya?”
“Kamu… mau aku ceritakan masa kecil kita?”
Shallom mengangguk sebagai jawaban.
Moses mulai bercerita. “Dulu, Papamu memang sering berkunjung ke Rumahku. Yang aku tahu, saat itu Papamu dinas di kota kami selama berberapa bulan. Tetapi pada satu waktu, dia membawa gadis kecil yang lucu. Gadis kecil ceria, dengan rambut di ikat dua, tidak lupa poni yang menutupi sebagian jidatnya.”
Moses terkekeh, ketika Shallom dengan spontan memengang poninya dengan tangan. “Saat itu, gadis kecil itu, menghampiriku dengan dua lesung pipinya yang membuatku juga tersenyum melihatnya, setelah itu, kami main bersama.”
“Kenapa… Mas Moses tidak lupa?”
“Mana mungkin aku melupakan gadis kecil yang mengecup pipiku?” ucap Pemuda itu dengan seringai jahil.
Dengan spontan, Shallom mencubit pelan lengan laki-laki itu, “Jangan bahas itu, aku bahkan tidak mengingatnya.”
Moses kembali mengacak pelan rambut Shallom. “Bercanda, aku hanya menjaga perasaan yang memang seharusnya aku jaga.”
Shallom semakin mengrenyit heran. Ingin bertanya lebih lanjut, tetapi Tomi dan Ira telah berpamitan pada Mamanya.
“Sampai jumpa besok, adik kecil.” Pamit Moses dengan senyuman tipis.
Oh God! Shallom merasa jantungnya berdetak cepat!
***
Moses tidak dapat menahan senyumnya disepanjang perjalanan, sang Ayah yang menyetir hanya menggeleng tidak habis pikir. Dasar anak muda.
“Senang bertemu cinta pertamamu Nak? Merasa apa yang kamu tunggu selama ini tidak sia-sia?” ujar Sang Ayah.
Moses menggeleng kecil, “Meski dia tidak ingat… aku yakin dia juga menjaga, apa yang telah aku jaga. Maka dari itu, semuanya harus aku pastikan.”
“Apa kamu… jatuh cinta dengannya?” imbuh sang Ibu.
Moses memutar bola matanya bosan, sekarang dia tahu, kenapa Mas Doni, sang Kakak selalu menasehatinya tentang terbukalah pada Ayah dan Ibu, atau kamu akan habis dengan pertanyaan mereka.
“Dari dulu aku merasa sesuatu yang berbeda dengannya. Sekarang dia cantik, dan aku lihat dia adalah perempuan yang kuat, bagaimana mungkin aku bisa menolak?”
Moses menghela napas, setelah menyadari Ayah dan Ibunya menyeringai. “Memangnya dia juga merasakan apa yang kamu rasakan?” tanya Ayahnya dengan mengedipkan sebelah mata.
“Anak Ibu sudah besar. Sosok yang selalu dingin pada wanita, tiba-tiba saja berubah lembut pada seorang gadis.” Lanjut Ibunya.
“Ayah, Ibu… berhentilah menggodaku.” ujar Moses sambil membuang muka kearah jendela mobil. Jika dipikir-pikir, dia tadi nekat juga memeluk seorang gadis dengan spontan. Tetapi dia hanya mengikuti nalurinya, tujuh belas tahun menahan rindu itu tidak mudah bukan?
Ayah dan Ibunya hanya tertawa pelan, menyadari anak bungsunya telah beranjak dewasa.
***
Shallom tidak bisa memejamkan mata, meski kantuk telah menguasainya sekarang. Pikirannya teralih pada Pemuda yang tadi siang memeluk, dan menggenggam erat tangannya. Itu kontak pertamanya dengan laki-laki selain Ayah dan Adiknya –tentu saja-
Dia memejamkan mata, mencoba mengingat-ingat sosok kecil yang sempat ia lihat di wallpaper smartphone milik laki-laki itu. Namun, semakin dia ingin mengingat, bayangan itu tidak ada.
Dia menelungkupkan dirinya dibawah gundukan selimut. Benarkah apa yang dikatakan laki-laki itu tadi?
***
Moses mencium punggung tangan Mara, sebelum memasuki Rumah yang kini telah terasa familiar sejak kemarin. Entah kenapa, dia merasa gugup jika berhadapan lagi dengan Shallom. Ah, perasaannya tidak sekalipun berubah.
Pemuda itu kembali terperangah, ketika melihat Shallom menggunakan Rok lipit berbahan jeans dengan kemeja putih sederhana yang nampak pas pada tubuhnya. Rambut gadis itu dibiarkan terurai. Moses yakin, Shallom benar-benar manis siang ini.
“Sudah? Ayo.” Ajaknya kemudian.
Shallom hanya mengangguk malu-malu.
“Tante, saya pinjam Shallom sebentar ya.” Pamit Moses pada Mara.
Mara tersenyum, lantas mengangguk. Putri kecilnya sudah dewasa… Andai, Arsa disini bersamanya, pasti dia tertawa menyaksikan kencan pertama anak gadisnya, dengan anak sahabatnya sendiri.
***
Moses membawa Shallom pada sebuah Taman yang tidak jauh berada dari Rumah Shallom. Duduk bersama pada satu bangku, dan membelikan gadis itu satu cup ice cream.
“Mas Moses kuliah di jurusan apa?” tanya Shallom mengawali percakapan.
“Tehnik, aku ingin seperti Ayahku. Juga Papamu.” Terang pemuda itu.
Shallom mengangguk tanda mengerti. “Kenapa Mas Moses seakan menjaga kenangan masa lalu kita dengan baik? Bahkan aku sama sekali tidak mengingatnya. Maaf, semalaman aku mencoba mengingat masa kecilku. Tetapi aku… tetap saja tidak ingat.”
Moses tersenyum singkat. “Because… You’re special.”
Gadis itu kembali bertanya. “Memang pacar Mas Moses nggak marah?” dia bertanya dengan raut polos, membuat Moses geli melihatnya.
“Aku hanya menjaga perasaanku pada satu gadis. Gadis kecil yang selama tujuh belas tahun menarik atensiku, gadis yang membuatku tidak kenal lelah menunggunya, gadis yang membuatku nyaris putus asa, karena kedua orang tua kami hilang kontak, dia… gadis kuat yang duduk disampingku sekarang.” Jelas Moses, tanpa mengalihkan pandangannya pada Shallom.
Mengetahui arah pembicaraan Moses, Shallom hanya menunduk. Dia belum siap mengikat suatu komitmen baru dengan siapapun. Dia juga… menganggap semuanya terlalu cepat.
“Aku belum pernah mengikat komitmen apapun pada seorang Pria. Dan, aku tahu kemana arah pembicaraan Mas Moses sekarang. Tidak kah ini terlalu cepat? Kita baru saja kembali bertemu. Dan aku bahkan tidak mengingat apapun yang terjadi antara kita sebelumnya, aku childish. Aku cengeng, aku ini fans fanatik berberapa idola. Aku bukan gadis anggun, malah terkesan urakan, walau aku ini cenderung pendiam jika belum mengenal seseorang dengan baik. Apa Mas Moses masih akan mempertahankan perasaan itu?”
Moses tersenyum, lantas menjawab. “Aku tidak semudah itu, melepas apa yang telah aku tunggu selama belasan tahun. Aku, tidak memaksamu merasakan apa yang juga aku rasakan sekarang. Karena akupun juga perlu waktu untuk mengokohkan apa yang aku rasakan, setelah ini… bagaimana jika kita mencoba bersahabat?”
Shallom mengangguk yakin. Meski sebagian hatinya merasa bersalah, dia tidak pernah mengikat komitmen pada siapapun, dia pasti juga pernah jatuh cinta kan? Padahal sebenarnya ada pemuda yang menunggunya tanpa merasakan lelah. Andaikan dia mengingat Moses juga sampai sekarang, apa perasaannya sama dengan pemuda ini?
***
Setelah hari itu, rasanya kehidupan Shallom berubah. Selalu ada pesan berisi selamat pagi di pagi hari, dan ucapan sebelum tidur di malam hari. Bahkan, pemuda itu sering datang disaat yang tidak terduga. Menyusup di kampus Shallom, atau bahkan mengantarnya kemanapun Shallom melaksanakan kegiatan organisasinya. Entahlah, padahal jarak tempuh dari kota Pemuda itu, dan kotanya lumayan jauh, dan Shallom berulangkali mengomeli Pemuda itu agar tidak bersikap seperti ini.
Pemuda itu paham dengan diri Shallom terlalu cepat, pemuda itu tahu, saat dia ingin menangis ketika merindukan Ayahnya. Pemuda itu tahu, saat ia sedang kesal dengan rekan satu timnya, pemuda itu tahu, dia belum menyantap sesuap nasi, karena mengerjakan laporan, dan naskahnya yang terus tertunda. Pemuda itu… terlalu baik.
Gadis itu terkesiap, ketika melihat lembaran kertas berwarna kuning, jatuh dari alkitab yang baru saja dia baca. True love… waiting. Dia tersenyum, membaca coretan tangannya saat berada di tingkat putih abu-abu. Lantas, dibacanya list yang telah dia hapal di luar kepala. List yang selalu dia doakan tiap malam. Dia rasa… dia sudah menemukan jawaban hatinya. Meski dia harus menunggu untuk berberapa tahun kedepan. Karena dia tidak akan mengingkari komitmennya sendiri.
Hari ini, Shallom bertemu Moses. Pemuda itu tiba-tiba saja muncul di depan rumahnya. Mengajaknya makan siang bersama, dengan dalih perutnya lapar. Meski Shallom menolak halus dengan menyuruh pemuda itu makan di rumahnya saja. Tetapi, pemuda itu terlanjur menariknya menuju mobil putih kesayangannya.
Setelah menyantap makanannya, Moses mengrenyit, menyadari raut muka Shallom yang dari tadi murung. “Hei, kenapa? Rindu Papa?”
Shalom mengangkat bahu. “Sedikit.”
Tangan Moses terulur, mengacak pelan rambut Shallom, kebiasaan yang tidak bisa ia hilangkan sejak pertama kali bertemu. “Papamu tidak akan kemana-mana, dia selalu berada, tepat dimana hatimu berada. Jangan murung, nanti Om Arsa sedih.”
Shallom tersenyum tipis. Bahkan, pemuda ini yang selalu mengertinya kan? Dan entah kali berapa dia menangis di depan Moses karena merindukan Ayahnya, atau kesal karena suatu hal. Bagaimana mungkin, dia tidak jatuh cinta pada pemuda ini?
“Shallom, setelah semua yang terjadi… sudah adakah perasaan itu?” tanya Moses.
Shallom tersenyum menggenggam erat tangan kokoh yang ada didepannya, “Ajari aku… ajari aku menunggu Mas Moses, dan jangan berhenti menungguku. Aku masih punya banyak mimpi yang ingin aku raih dengan tanganku, agar aku menjadi layak, untuk yang aku cinta kelak.”
Moses menarik sudut bibirnya, ketika memandang wajah ayu yang ada dihadapannya. “Doakan aku.”
“Doakan aku juga.”

**
Setelahnya, Moses memang tidak bisa sesering mungkin bertemu dengan Shallom, atau gadis itu akan mengancamnya tidak akan mau menemuinya lagi. Memang merepotkan baginya, tetapi dia sudah berjanji, menggapai dulu semua mimpinya, baru cintanya. Dia tidak pernah menyesal untuk menunggu sebelumnya.
Dia tumbuh menjadi laki-laki tidak peduli. Menjadi anak bungsu membuatnya lebih diperhatikan keluarganya, dan entah mengapa dari sakian banyak gadis yang dia lihat, tidak ada yang bisa menarik perhatiannya seperti Shallom, yang lain hanya ketertarikan sesaat. Atau hanya sekedar jatuh cinta, dan tidak berminat menjadikannya kekasih. Ia hanya menganggap semuanya seperti angin lalu. Mungkin itu yang dimaksud Doni, menemukan radar yang dijanjikan Tuhan itu.
Mengenal Shallom selama dua tahun ini, membuatnya tahu, gadis itu mempunyai asam lambung yang bisa kambuh tiba-tiba, gadis itu menyukai bintang, dan mukanya terlihat sangat bahagia ketika melihat dandelion, gadis itu selalu histeris ketika melihat artis-artis idola luar negerinya dikabarkan akan ke Indonesia. Moses tahu, semua tentang gadis itu, dan baru kali ini, dia memerhatikan seorang gadis dengan sangat detail.
“Dek, lagi seneng ya? Senyum-senyum sendiri, mentang-mentang udah punya gebetan.” Ujar Kakaknya, yang sedang menggendong anak semata wayangnya.
“Apa sih Mas?” ucapnya sambil memutar bola mata bosan.
“Pesan Mas, kalau jika memang ingin hatimu terikat dengan dia, jagalah dia dengan tulus. Cinta bukan tentang jatuh, tetapi tentang bangun. jika kamu serius, bangunlah cinta dengan dia, karena membangun cinta… butuh waktu seumur hidup.”
“Apa itu yang Mas Doni rasakan terhadap Mbak Nessa?”
Doni mengangguk. “Nah, adikku tentu sudah dewasa, pasti dapat membedakan, mana radar yang dari Tuhan.” Katanya sambil terkekeh.
*
Shallom tersenyum, mengingat apa yang dilontarkan Moses dua tahun lalu, semua mimpinya, sudah selesai dia raih, dan hatinya sudah mantap sekarang. dia berharap dia tidak akan salah memilih. Gadis itu memang pernah jatuh cinta, satu kali. Dan parahnya terlalu dalam, hingga sosok Moses hadir dan bisa menguburnya.
Dulu dia jatuh cinta, dan orang itu tidak pernah tahu, hingga dia sadar, dia telah jatuh cinta pada orang yang salah. Sejak itu, Shallom tidak mau lagi berurusan dengan cinta, terlebih dia telah mengikat komitmen, menjaga hatinya, sampai waktunya tiba..
Cinta itu perlu waktu, cinta tidak memaksa, dan tulus untuk menunggu. -True love wait
“Moses anak yang baik, perjuangannya hingga detik ini, mengingatkan perjuangan Papamu dulu untuk mendapatkan Mama.” Kata Mara, yang tiba-tiba telah berada di belakang Shallom.
Shallom hanya tersenyum, Mamanya memang pernah bercerita tentang kisahnya dengan Papanya. Tahun berlalu begitu cepat, hingga dia sendiri yang memutuskan bagaimana kisahnya nanti.
“Dia sepertinya dewasa ya. Buktinya, bisa sabar menghadapi sikapmu yang terkadang childish dan keras kepala ini. Mama harap, jika dia pilihan kamu, dia bisa menjaga kamu.”
Shallom berusaha menahan tangisnya, jika Mamanya bicara seperti itu, rasanya seperti dia akan diambil oleh orang saja.
***
Hari yang ditunggu Moses tiba, dengan kemeja kotak-kotak berwarna biru, dan celana jeans hitam, dia siap menyatakan perasaannya sekali lagi. Jika pada saat pertama mengutarakan perasaannya dia hanya tertarik, dan pada kedua kalinya, dia hanya merasakan rasa jatuh yang begitu menyenangkan, maka sekarang, dengan kedewasaan yang makin matang, ia kembali mengungkapkan perasaannya, ingin membangun cinta bersama gadis itu, selamanya. Di seluruh sisa hidupnya.
Shallom terlihat cantik dengan dress biru mudanya yang sebatas lutut. Tetapi ada yang aneh dengan gadis itu, kantung matanya membesar, dan wajahnya terlihat pucat.
“Shallom, berapa jam kamu tidur semalam?”
Gadis itu hanya menaikan bahu, membuat Moses semakin khawatir.
“Kamu ini tenaga medis, tetapi menjaga kesehatan diri sendiri saja susah. Sudahlah, aku tidak mau membuang banyak waktu. Marry me. Supaya aku bisa leluasa menjagamu.”
Shallom mendongakkan kepalanya, lantas memukul pelan bahu pemuda dihadapannya. “Kenapa tidak romantis? Moses no baka!
Moses menaikan sebelah alisnya, “Memangnya, apa yang kamu harapkan? Ending romantis seperti kisah picisan yang kamu buat?” dilemparnya kotak beludru berwarna merah itu pada gadis yang ada dihadapannya.
“Kita harus bergegas pulang, aku tidak mau calon isteriku sakit.”
“Aku hanya kurang tidur karena menyelesaikan pekerjaanku, bahkan aku belum menerima lamaranmu!” Sahut Shallom.
Dengan seringai kecil, Moses menjawab. “Kamu tidak mungkin menolakku. Ah, idolamu ke Indonesia, kamu tidak membeli tiketnya?”
“Percaya diri sekali. Mas Moses tahu, aku sudah lama pensiun.” Kata Shallom sambil mengerucut menahan kesal.
“Begitukah? Shallom… ingatkan aku melamarmu ulang di depan Om Arsa, setelah kupastikan kamu tidur nyenyak nanti malam.”
Shallom terdiam, tidak bisa menahan senyumnya kali ini. Pemuda ini, memang mengerti dirinya.
Moses melihat smartphone-nya kemudian berbalik memandang Shallom yang masih terdiam memegang kotak merahnya. “Kenapa malah diam? Kita harus bergegas pulang.”
Pemuda itu menghela napas, diambilnya kotak beludru berwarna merah dari tangan Shallom, kemudian diambilnya tangan gadis itu, dan dipasangnya pada jari manisnya. “Aku ingin membangun cinta dengan kamu, Marry me?
Gadis itu mengangguk lantas terkikik pelan, pemuda itu peka rupanya. Melihat tawa kecil yang menurut Moses menyebalkan itu, dikecupnya pelan pipi gadis itu singkat, lalu berjalan menjauh mendahuluinya. “Aku kembalikan, yang 22 tahun lalu kamu berikan.” Katanya dengan seringai kemenangan.

-END-

yuhuuu one shoot kilat setelah berapa bulan ga nulis. but, saya menulis apa yang ingin saya tulis. dan lewat banyak mimpi aneh dan berandai-andai jadilah seperti ini. dimana suatu ketika saya membayangkan, saya terjebak pada fiksi yang saya buat senndiri.
(aslinya cerita ini akan sangat panjang, tetapi karena saya lelah nulisnya yaudah)
maaf untuk typo, kata quotes yg hilang banyak -_- dan seluruh kekurangan lain! maklum lama ga nulis *ditabok*
ah iya, quotes pertama itu dari buku saven habits yang baru saya baca, buku non fiksi favorit sayaa... (terimakasih pak lukas buat rekomendasinya :D) kata-katanya bagus banget, saya sukaa.. nggak heran buku itu jadi favorit.
ini hadiah pemula buat Gratia, happy anniv 3tahun, hadiah sesungguhnya menyusul. (ssssssstttttttt kirim nama ******* yaa, biar kesannya nyata wqwq. clue : ingatlah percakapan di kost gloria dua tahun yang lalu.)
terimakasih sudah mampir, enjoy reading!
salam bintang dandelion!
_giardanila_